Wednesday, March 24, 2010

Lupakan Kebaikan, Maafkan Kesalahan

”Dua Hal Yang Harus Dilupakan Dalam Hidup Adalah Kebaikan Kita Kepada Orang

Lain Dan Kesalahan Orang Lain Terhadap Kita”

Bila kita mempunyai kesempatan dan kemampuan untuk berbuat baik

LAKUKANLAH...
Karena banyak orang yang mempunyai kemampuan Tetapi tidak memiliki

kesempatan.
Demikian juga banyak yang mempunyai kesempatan tetapi tidak punya kemampuan

untuk melakukan kebaikan.

Dahulu disebuah perkampungan tinggal seorang nenek yang sudah sangat tua.

Namun kondisi tubuhnya masih sangat sehat. Walaupun usianya sudah lanjut

dirinya masih bisa mencari nafkah sendiri. Walaupun hidup sendiri, dirinya

tidak pernah terlihat sedih. Setiap waktu bibirnya selalu mengembangkan

senyum dan raut mukanya ceria.

Nenek ini tidak menjadi beban para tetangga, sebaliknya para tetangga

menjadikan beliau sebagai tempat mencari jalan keluar untuk berbagai

masalah, karena Sang nenek memang terkenal suka membantu terhadap sesama,

beliau akan memberikan bantuan sebanyak yang ia bisa. Kalau memang harus

memberikan bantuan berupa materi, ketika ia punya dirinya tak segan-segan

memberikan kepada yang lebih membutuhkan. Tidak hanya orang yang tidak mampu

saja yang sering minta bantuan kepada Sang nenek, banyak juga orang kaya

bahkan pejabat setempat mendatanginya untuk sekedar meminta nasehat.

Masyarakat setempat sangat mengagumi dan menghormati Sang nenek mulai dari

anak-anak sampai dengan orang tua.

Suatu hari dirinya pun didatangi seorang pejabat desa setempat, pejabat ini

terkenal sangat dermawan. Namun pejabat ini tetap merasakan pamornya kalah

dengan Sang nenek. Ia merasakan apa yang dilakukan jauh melebihi sang nenek.
Ia selalu membantu rakyatnya yang kesusahan dan ia merasakan apa yang

didapat tidak setimpal. Hatinya sangat gelisah dan pejabat ingin mencari

tahu apa yang diperbuat nenek sehingga Sang nenek mendapatkan simpati yang

melebihi dirinya.

”Nenek aku ingin tahu rahasia nenek sehingga nenek begitu dihormati disini

?” Tanya pejabat.
”Nenek tidak melakukan apa-apa” Jawab nenek dengan gaya khasnya yang selalu

tersenyum tulus kepada siapa saja.
”Aku benar-benar ingin tahu nenek, Aku merasakan aku sudah berusaha yang

terbaik untuk rakyatku tetapi mengapa aku masih tetap saja gelisah. Bukankah

kata orang-orang bahwa yang selalu berbuat baik hidupnya akan tenang”
”Itu betul tuan pejabat” Nenek menjawab singkat.
”Kalau berbicara kebaikan aku yakin aku jauh lebih banyak berbuat baik

dibandingkan nenek. Tapi bagiku bisa membantu orang merupakan satu karunia

terbesar yang harus aku syukuri”
”Itu juga betul tuan pejabat”
”Aku bisa merasakan dan sangat yakin hidup nenek jauh lebih tentram dan

bahagia dari aku” Tuan pejabat makin gelisah.
”Lagi-lagi tuan pejabat betul” Sang nenek memberikan jawaban yang sama dan

pembawaannya juga tetap tenang.
”Mengapa bisa demikian?” Airmuka pejabat mulai berubah. Wibawa Sang pejabat

hampir tidak terlihat dan berganti sosok yang memelas yang lagi membutuhkan

pertolongan.
”Apakah tuan pejabat benar-benar ingin tahu penyebab kegalauan tuan?” Sang

nenek pun melontarkan pertanyaan.
”Iya nek” Balas tuan pejabat.

Sesungguhnya nenekpun belum tahu apa penyebabnya, yang bisa nenek lakukan

adalah mencari akar permasalahan yang menyebabkan tuan gelisah” Kali ini

nenek berbicara dengan nada yang sangat berwibawa. Dan kewibawaannya semakin

membuat si pejabat ciut.
”Baiklah, nenek ingin tanya hari ini tuan sudah berbuat kebaikan apa saja

dan kejahatan atau kesalahan orang lain apa yang diterima tuan ?” Nenek

menatap dalam-dalam sedangkan tuan pejabat tidak berani membalas tatapan

Sang nenek. Ia tertunduk sedih.
”Hari ini aku telah membantu sebuah keluarga yang kelaparan. Aku terharu

melihat mereka menitik air mata saat menerima bantuan dariku, tapi yang

membuatku kesal saat aku menuju kesini ditengah jalan aku bertemu seorang

yang terpeleset dijalan, aku menolongnya, dia bukannya berterimakasih malah

memaki-maki aku dengan kata yang kasar katanya aku jadi pejabat tidak becus.

Masa, jalan lagi rusak tidak diperbaiki. Padahal kondisi jalan sama sekali

tidak rusak. Aku benar-benar tidak bisa diterima, air susu dibalas dengan

air tuba” Jelas pejabat panjang lebar.
”Lupakan itu semua maka hidup tuan akan tenang”
”Maksud nenek?” Tuan pejabat makin bingung.
”Lupakan kebaikan kita kepada orang lain dan juga lupakan kesalahan orang

lain terhadap kita”

Akhirnya tuan pejabatpun paham apa yang membuat dirinya tidak tenang dan

mengapa hidup Sang nenek begitu dihormati. Tuan pejabat pun berpamitan

pulang dan ia telah menemukan kunci hidup tentram. Setelah itu, wajah tuan

pejabat pun selalu terlihat ceria dan mengembangkan senyum. Dirinya pun

tidak mengingat kebaikannya dan kesalahan orang lain.

Berbuat baik itu mulia, mampu memaafkan jauh lebih mulia

”Kebaikan Akan Kehilangan Nilai Luhurnya Jika Mengharapkan Pamrih, Dan

Kesalahan Orang Lain Pun Akan Membawa Berkah Jika Kita Bisa Memaafkan”

Sahabat.......,
Menolong orang lain atau berbuat kebaikan harus dari hati. Dan juga harus

dengan niat benar-benar ingin berbuat baik tanpa mengharapkan balasan atau

pamrih, karena apabila kita berbuat mengharapkan puji-puji dari orang lain

maka nilai kebaikan yang kita perbuat akan kehilangan keluhurannya. Bahkan

lebih dari itu apabila satu harapan untuk mendapatkan balasan tidak

terpenuhi akan menyebabkan hati kita tidak bisa terima dan merasa apa yang

kita lakukan hanyalah sia-sia.

Demikian juga dengan kesalahan orang lain kita harus bisa memaafkan dan

melupakan. Karena jika tidak, kesalahan orang lain akan menjadi momok dalam

batin yang akhirnya akan melahirkan dendam, dendam akan terus menghasut hati

dan pikiran kita untuk melakukan satu pembalasan. Hal ini sangat tidak

menguntungkan buat kita, banyak energi yang terbuat sia-sia untuk memikirkan

cara membalas kejahatan dengan kejahatan, meskipun kejahatan sudah

terbalaskan dengan beribu-ribu lipat kejahatan tetap saja tidak akan membuat

sanubari kita menjadi tenang.

Mengingat kebaikan kita dan kesalahan orang lain bukan tidak mungkin akan

menimbulkan satu penyakit jiwa dan fisik, memikirkan kebaikan kita tidak di

hargai dan pelecehan orang lain akan menyebabkan kita susah tidur dan tidak

ada nafsu makan, bukankah akan merusak lahiriah dan batiniah?.

Melupakan kebaikan kita membuat kita tidak berharap lebih dan melupakan

kesalahan orang lain akan membunuh akar dendam yang otomatis membuat kita

hidup tenang.

Seperti kisah diatas, penyebab kegelisahan tuan pejabat tidak berasal dari

mana-mana tetapi dari hatinya sendiri. Dan ketentraman Sang nenek pun

berasal dari hati dan pikirannya sendiri, tidak ada niat untuk menjadi orang

yang mulia yang juga membuat dirinya menjadi mulia.

Berbuat baik terhadap sesama adalah kewajiban yang tidak perlu ada hitung-

hitungan. Dan bersyukurlah kita yang diberi kesempatan untuk berbuat baik.

Lihatlah berapa banyak orang yang ingin berbuat baik tetapi tidak mempunyai

kesempatan. Mereka yang terbaring tidak berdaya, mereka yang tidak punya

apa-apa saat melihat pengemis datang kepadanya, hanya ada niat tetapi tidak

mempunyai kemampuan. Namun itu masih lebih baik dari pada mereka yang bisa

menolong tetapi enggan melakukannya. Menolong orang lain atau berbuat baik

pun tidak selalu dengan materi, kita bisa membantu dengan tenaga, pikiran

bahkan hanya dengan menjadi pendengar yang baik yang sedikit berbicara

ketika orang lain menceritakan beban hidupnya.

Dan di Dunia ini pun tidak ada orang yang tidak pernah berbuat salah. Jika

kita tidak bisa melupakan kesalahan orang lain terhadap kita, sepanjang

hidup berapa banyak orang yang pernah berbuat salah kepada kita. Jika

dibiarkan bukankah dendam akan menumpuk dihati kita yang akan merusak diri

kita sendiri.

Sahabat.......,
Berbuat baik sekecil apapun lalu lupakan. Dan sebesar apapun kesalahan orang

lain kitapun tidak perlu mengingatnya.

Sebelum kita menghitung kebaikan yang telah dilakukan sebaiknya terlebih

dahulu kita harus menghitung kesalahan yang pernah diperbuat.

Suatu ketika seorang pria bertanya kepada Rasulullah SAW tentang akhlak yang

baik, maka Rasulullah SAW membacakan firman Allah, “Jadilah engkau pemaaf

dan perintahkan orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari

orang-orang yang bodoh.” (QS al-A’raaf [7] : 199). Kemudian beliau bersabda

lagi, “Itu berarti engkau harus menjalin hubungan dengan orang yang

memusuhimu, memberi kepada orang yang kikir kepadamu dan memaafkan orang

yang menganiayamu.” (Hr. Ibnu Abud-Dunya)

Allah berfirman dalam Hadits Qudsi yang artinya : " Nabi Musa a.s telah

bertanya kepada Allah : " Ya Rabbi ! siapakah diantara hamba-MU yang lebih

mulia menurut pandangan-Mu ?" Allah berfirman :" Ialah orang yang apabila

berkuasa (menguasai musuhnya), dapat segera memaafkan." (Kharaithi dari Abu

Hurairah r.a)

Dalam Perang Uhud Rasulullah mendapat luka pada muka dan juga patah beberapa

buah giginya. berkatalah salah seorang sahabatnya :" Cobalah tuan doakan

agar mereka celaka." Rasulullah menjawab :"Aku sekali kali tidak diutus

untuk melaknat seseorang, tetapi aku diutus untuk mengajak kepada kebaikan

dan Penebar Kasih Sayang. Lalu beliau menengadahkan tangannya kepada Allah

Yang Maha Mulia dan berdoa " Ya Allah ampunikah kaumku , karena mereka tidak

mengetahui ."


" Dan hendaklah mereka suka memaafkan dan mengampuni. apakah kalian tidak

suka Allah mengampuni kalian ? " (QS. An-Nuur ; 22)


sumber: facebook